1. PENYESUAIN DIRI DAN PERTUMBUHAN
A. PENYESUAIAN DIRI
Arti Penyesuaian Diri
Penyesuaian
diri (adjustment) merupakan suatu istilah yang sangat sulit
didefinisikan karena (1) penyesuaian diri mengandung banyak arti, (2) criteria
untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara jelas, dan (3)
penyesuaian diri (adjustment) dan lawannya ketidakmampuan menyesuaikan
diri (maladjustment) memiliki batas yang sama sehingga akan mengaburkan
perbedaan diantara keduanya. Dengan demikian, apabila kita mau menghilangkan
kekacauan atau salah pengertian mengenai apa itu penyesuaian diri, maka kita
harus tahu konsep-konsep dasarnya.
Penyesuaian Diri sebagai Adaptasi
Secara
historis arti istilah “penyesuaian diri” sudah mengalami banyak perubahan.
Karena kuatnya pengaruh pemikiran evolusi pada psikologi, maka penyesuaian diri
disamakan dengan adaptasi, yaitu proses dimana organism yang agak sederhana
mematuhi tuntutan-tuntutan lingkungan. Meskipun ada persamaan diantara kedua
istilah tersebut, namun penyesuaian diri yang kompleks tidak cocok dengan
konsep adaptasi biologis yang sederhana. Erich Fromm dalam bukunya, Escape
from Freedom, (Fromm, 1941) mengemukakan konsep adaptasi yang menarik dan
berguna yang mendekati ide penyesuaian diri. Fromm membedakan apa yang
dinamakannya adaptasi statis dan adaptasi dinamik. Ia menggunakan adaptasi
statis untuk menyebut perubahan kebiasaan yang relatif sederhana, misalnya
orang berpindah dari satu kota kekota yang lain. Sedangkan adaptasi dinamik
adalah sistuasi dimana seseorang menerima hal-hal meskipun menyakitkan,
misalnya seorang anak laki-laki tunduk kepada perintah ayah yang keras dan
mengancam. Fromm menafsirkan neurosis sebagai respons dinamik, adaptasi yang
sama dengan penyesuaian diri.
Penyesuaian Diri dan Individualitas
Dalam
mendefinisikan penyesuaian diri, kita tidak boleh melupakan perbedaan
–perbedaan individual. Anak yang sangat cerdas atau genius tidak sesuai dengan
pola “normal”, baik dalam kapasitas maupun dalam tingkah lakunya, tetapi kita
tidak dapat menyebutnya sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri.
Sering kali norma-norma sosial dan budaya begitu kaku untuk dituruti dengan
baik. Misalnya, sering terjadi dibeberapa Negara, warga Negara menolak
undang-undang abortus atau sterilisasi yang dikeluarkan oleh Negara. Orang yang
tidak dapat menerima undang-undang ini, tidak dapat tidak dapat dianggap
sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri.
Penyesuaian Diri sebagai Penguasaan
Penyesuaian
diri yang baik kelihatannya mengandung suatu tingkat penguasaan yang baik pula,
yaitu kemampuan untuk merencanakan atau mengatur respons-respons pribadi
sedemikian rupa sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan dan
frustasi-frustasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau
yang menguasai. Gagasan ini jelas berguna tetapi tidak memperhitungkan
kelemahan-kelemahan individual. Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan yang
dituntut oleh penguasaan itu. pemimpin-pemimpin, orang-orang ang genius, dan
orang-orang yang IQ-nya diatas rata-rata mungkin diharapkan memperlihatkan
penguasaan yang luar biasa itu, tetapi meskipun demikian orang-orang ini pun
sering mengalami kegagalan. Ini justru mengingatkan kita bahwa setiap orang
memiliki tingkat penyesuaian dirinya sendiri, yang ditentukan oleh
kapasitas-kapasitas bawaan, kecenderungan-kecenderungan yang diperoleh, dan
pengalaman.
Definisi Penyesuaian Diri
Dari
segi pandangan psikologis, penyesuaian diri memiliki banyak arti, seperti
pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustasi dan konflik,
ketenangan pikiran/jiwa, atau bahkan pembentukan simtom-simtom. Itu berarti
belajar bagaimana bergaul dengan baik dengan orang lain dan bagaimana
menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Tyson menyebut hal-hal seperti
kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan berafeksi, kehidupan yang seimbang,
kemampuan untuk mengambil keuntungan dari pengalaman, toleransi terhadap frustasi,
humor, sikap yang tidak ekstrem, objektivitas, dan lain-lain (Tyson, 1951).
Kita
tidak dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri itu baik atau buruk. Kita hanya
dapat mengatakan bahwa penyesuaian diri adalah cara individual atau khusus
organismedalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau
situasi-situasi dari luar. Untuk beberapa orang mungkin reaksi ini bisa
efisien, sehat atau memuaskan. Sementara untuk orang lain reaksi ini
melumpuhkan, tidak efektif, atau bahkan patologik.
Jadi,
kita dapat mendefinisikan dengan sederhana, bahwa penyesuaian diri itu adalah
suatu proses yang melibatkan respons-respons mental dan tingkah laku yang menyebabkan
individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan,
frustasi-frustasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan
tuntutan-tuntutan batin ini dengan tuntutan-tuntutan yang dikenakan kepadanya
oleh dunia dimana ia hidup. Dalam arti ini, kebanyakan respons cocok dengan
konsep penyesuaian diri.
Konsep Penyesuaian Diri yang Baik
Apa
itu penyesuaian diri yang baik? Pasti itu yang ada dibenak kita setelah kita
mendengar konsep penyesuaian diri yang baik. Orang yang dapat menyesuaikan diri
dengan baik adalah orang yang memiliki respons-respons yang matang, efisien,
memuaskan dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotic adalah orang yang sangat
tidak efisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap.
Istilah
“sehat” berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok dengan kodrat
manusia, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung jawabnya.
Kesehatan merupakan cirri yang sangat khas dalam penyesuaian diri yang baik.
singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, ornag yang
dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap
situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik-konflik,
frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku yang
simtomatik. Karena itu, ia relative bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan
kronis, obsesi, atau gangguan-gangguan psikofisiologis (psikosomatik). Ia
menciptakan dunia hubungan antarpribadi dan kepuasan-kepuasan yang ikut
menyumbangkan kesinambungan pertumbuhan kepribadian.
Penyesuaian Diri adalah Relatif
Penyesuaian
diri seperti yang telah dirumuskan diatas adalah relatif karena tidak ada orang
yang dapat menyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian diri harus dinilai
berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan menanggulangi tuntutan-tuntutan
yang dihadapi dan kapasitas ini berbeda-beda menurut kepribadian dan tingkat
perkembangan.
Penyesuaian
diri juga bersifat relatif karena berbeda-beda menurut norma-norma sosial dan
budaya, serta individu itu sendiri pun berbeda-beda dalam bertingkah laku.
Bahkan orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik kadang-kadang merasa
bahwa ia menghadapi situasi atau masalah yang melampaui kemampuannya untuk
menyesuaikan diri.
Penyesuaian Diri versus Moralitas
Pemakaian
baik dan buruk menempatkan seorang psikolog dalam ilmu kesehatan mental dalam
posisi untuk membuat penilaian terhadap tingkah laku yang sebenarnya diharapkan
tidak dilakukan oleh seorang ilmuwan. Tetapi dapat dikemukakan di sini bahwa
keputusan untuk menilai bukan sesuatu yang khas bagi bidang ilmu moral atau
etika. Setiap orang dapat berbicara tentang kesehatan yang baik dan buruk, atau
cuaca yang baik atau buruk dengan tidak memperhatikan pandangan moral atau
etika. Kita tidak melihat tingkah laku yang tidak dapat menyesuaikan diri
sebagai sesuatu yang secara moral buruk atau juga orang yang dapat menyesuaikan
diri dengan baik sabagai teladan kebajikan yang sempurna. Kemampuan
menyesuaikan diri tidak dapat disamakan dengan kebajikan, atau ketidakmampuan
menyesuaikan diri disamakan dengan dosa. (Mowrer, 1960). Tetapi sering kali
terjadi bahwa imoralitas merupakan akar dari ketidakmampuan menyesuaikan diri
dan sudah pasti penyesuaian diri yang sehat dalam pengertian yang sangat luas
harus juga mencakup kesehatan moral.
B. PERTUMBUHAN PERSONAL
Banyak kualitas penyesuaian diri yang baik
mengandung implikasi-implikasi yang khas bagi pertumbuhan pribadi. Ide ini
terkandung dalam kriteria perkembangan diri yang berarti pertumbuhan
kepribadian yang terus-menerus kearah tujuan kematangan dan prestasi pribadi.
Setiap langkah dalam proses pertumbuhan dari masa bayi sampai masa dewasa harus
menjadi kemajuan tertentu kearah kematangan tang lebih besar dalam pikiran,
emosi, sikap dan tingkah laku. Pelekatan (fiksasi) pada setiap tingkat
perkembangan bertentangan dengan penyesuaian diri yang adekuat,
misalnya menggigit kuku, menghisap jempol, ngompol, ledakan amarah, atau
membutuhkan sangat banyak kasih sayang dan perhatian. Perkembangan diri disebabkan
oleh realisasi kematangan yang terjadi secara tahap demi tahap.
Pertumbuhan
kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya minat terhadap pekerjaan dan
kegemaran. Sulit menyesuaikan diri dengan baik terhadap tuntutan-tuntutan
pekerjaan yang tidak menarik dan membosankan, dan segera pekerjaan itu menjadi
hal yang tidak menyenangkan atau menjijikkan. Tetpi, kita memiliki cara
tertentu untuk mengubah dan mengganti pekerjaan yang merangsang minat kita
sehingga kita dapat memperoleh kepuasan terus-menerus dalam pekerjaan.
Pertumbuhan
pribadi tergantung juga pada skala nilai yang adekuat dan tujuan yang
ditetapkan dengan baik, kriteria yang selalu dapat digunakan seseorang untuk
menilai penyesuaian diri. Skala nilai atau filsafat hidup adalah seperangkat
ide, kebenaran, keyakinan, dan prinsip membimbing seseorang dalam berpikir,
bersikap, dan dalam berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain dalam
memandang kenyataan dan dalam tingkah laku sosial, moral dan agama. Seperangkat
nilai inilah yang akan menentukan apakah kenyataan itu besifat mengancam,
bermusuhan, sangat kuat, atau tidak patut menyesuaikan diri dengannya.
Penyesuaian diri memerlukan penanganan yang efektif terhadap masalah dan stress
yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, dan pemecahan masalah dan stress
itu akan ditentukan oleh nilai-nilai yang kita bawa berkenaan dengan situasi
itu. kita seringkali mendengar orang-orang menjadi berantakan dan dengan demikian
mendapat gangguan emosi dan tidak bahagia. Orang-orang tersebut tidak yakin
mengenai hal yang baik atau buruk, benar atau salahh, bernilai atau tidak
bernilai. Mereka tidak memiliki pengetahuan, nilai, atau prinsip yang akan
menyanggupi mereka untuk mereduksikan kebimbangan atau konflik yang secara
emosional sangat mengganggu.
Dalam
proses pematangan, perkembangan situasi sistem nilai akan meliputi juga tujuan
jangka pendek dan jangka panjang yang menjadi inti dari integrasi dan tingkah
laku menyesuaikan diri. orang yang memiliki tujuan-tujuan yang ditetapkan
dengan baik bertindak secara terarah dan bertujuan, meskipun terkadang
terganggu oleh kehilangan arah, kebosanan, kekurangan minat dan dorongan. Dalam
salah satu penelitian mengenai pengaruh-pengaruh dari tercapainya tujuan di
kalangan para mahasiswa, telah ditemukan bahwa arah tujuan ada hubunganya
dengan peningkatan keyakinan, perbaikan harga nilai, dan pembaruan usaha.
Pengaruh umum dari tercapainya tujuan adalah tegangan direduksikan.
Kriteria
terakhir untuk menilai penyesuaian diri adalahh sikap terhadap kenyataan.
Penyesuaian diri yang baik memerlukan sikap yang sehat dan realistic yang menyanggupi
seseorang untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya bukan sebagaimana
diharapkan atau diinginkan. Kriteria ini dipakai pada segi-segi kenyataan dalam
waktu dan ruang. Ada orang yang hidup dalam dunia mimpi tentang peristiwa masa
lampau yang sangat menghargai kenangan-kenangan pada masa kanak-kanak, dan
baginya masa sekarang adalah suatu kenyataan yang jelek, dan masa yang akan
datang merupakan sesuatu yang menakutkan.
Adolph
Meyer berpendapat bahwa kapasitas untuk menggunakan masa lampau dan bukan
semata-mata menderita karenanya adalah perlu untuk penyesuaian diri bahwa
penangan harus dipakai untuk menangani kenyataan sekarang dan kesempatan yang
kreatif dapat direalisasikan dengan tinjauan yang sehat ke masa depan. Sikap
yang sehat terhadap masa lampau, masa sekarang dan masa depan sangat penting untuuk
penyesuaian diri yang sehat.
Factor yang mempengaruhi pertumbuhan personal ;
1. Faktor biologis
Karakteristik anggota tubuh yang berbeda setiap orang,
kepribadian, atau warisan biologis yang sangat kental.
2. Faktor geografis
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadian
seseorangdan nantinya akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal
seseorang.
3. Faktor budaya
Tidak di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam
kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang
sama memiliki kepribadian yang sama juga.
Selain itu, ada satu hal yang tidak kalah
penting berkaitan dengan penyesuaian diri dan pertumbuhan personal adalah
komunikasi. Dengan kemampuan komunikasi yang baik maka penyesuaian diri dan
pertumbuhan personal seseorang juga akan berjalan baik.
Kesimpulan:
Penyesuaian diri (adjustment) merupakan suatu istilah
yang sangat sulit didefinisikan karena (1) penyesuaian diri mengandung banyak
arti, (2) criteria untuk menilai penyesuaian diri tidak dapat dirumuskan secara
jelas, dan (3) penyesuaian diri (adjustment) dan lawannya ketidakmampuan
menyesuaikan diri (maladjustment) memiliki batas yang sama sehingga akan
mengaburkan perbedaan diantara keduanya. Sedangkan, pertumbuhan
kepribadian ditingkatkan oleh banyaknya minat terhadap pekerjaan dan
kegemaran.
2. STRESS
Stress
adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk
ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat
membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada
dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental.
Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena
stress, disebut strain.
A.
Arti penting stres
Istilah stres ditemukan oleh Hans Selye (dalam Sehnert,
1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh
pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Dengan kata lain istilah stress dapat
digunakan untuk menunjukkan suatu perubahan fisik yang luas yang diakibatkan
oleh berbagai faktor psikologis, faktor fisik atau kombinasi kedua faktor
tersebut.
Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis
individu yang disebabkan kerena individu dihadapkan pada situasi internal dan
eksternal. Sedangkan menurut Korchin (1976) keadaan stres muncul apabila
tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan
atau integritas seseorang. Stress tidak hanya kondisi yang menekan seseorang
ataupun keadaan fisik atau psikologis seseorang maupun reaksinya terhadap
tekanan tadi, akan tetapi stres adalah keterkaitan antara ketiganya
(Prawitasari, 1989).
Efek-efek
Stress menurut Hans Selye
Menurut Hans Selye, ahli endokrinologi terkenal di awal 1930
tidak semua jenis stres bersifat merugikan. Berikut adalah beberapa efek dari
stress:
1. Local Adaptation Stres.
Local Adaptation Stress adalah ketika tubuh menghasilkan
banyak respon setempat terhadap stres. Respon setempat ini contohnya seperti
pembekuan darah, penyembuhan luka, akomodasi cahaya, dan masih banyak lagi.
Responnya berlangsung dalam jangka yang sangat pendek. Karakteristik dari LAS
adalah respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system,
respon bersifat adaptif sehingga diperlukan stresor untuk menstimulasinya,
respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus, dan respon bersifat
restorative.
2. General Adaptation Syndrome
General Adaptation Syndrome adalah istilah penting dari Hans
Selye yang ditemukan saat membahas tentang stress. Menurutnya ketika organisme
berhadapan dengan stressor, dia akan mendorong dirinya sendiri untuk melakukan
tindakan. Usaha ini diatur oleh kelenjar adrenal yang menaikkan aktivitas
sistem syaraf simpatetik. Reaksi fisiologis tubuh terhadap perubahan-perubahan
akibat stress itulah yang disebut sebagai General Adaption Syndrome.
GAS
terdiri dalam tiga fase :
a.
Alarm reaction (reaksi peringatan) pada fase ini tubuh dapat mengatasi
stressor(perubahan) dengan baik. Apabila ada rasa takut atau cemas atau
khawatir tubuh akan mengeluarkan adrenalin, hormon yang mempercepat katabolisme
untuk menghasilkan energi untuk persiapan menghadapi bahaya mengacam. Ditambah
dengan denyut jantung bertambah dan otot berkontraksi.
b.
The stage of resistance (reaksi pertahanan). Reaksi terhadap stressor sudah
mencapai atau melampaui tahap kemampuan tubuh. Pada keadaan ini sudah dapat
timbul gejala-gejala psikis dan somatis. Respon ini disebut juga coping
mechanism. Coping berarti kegiatan menghadapi masalah, misalnya kecewa diatasi
dengan humor, rasa tidak senang dihadapi dengan ramah dan sebagainya
c.
Stage of exhaustion (reaksi kelelahan). Pada fase ini gejala-gejala
psikosomatik tampak dengan jelas. Gejala psikosomatis antara lain gangguan
penceranaan, mual, diare, gatal-gatal, impotensi, exim, dan berbagai bentuk
gangguan lainnya. Kadang muncul gangguan tidak mau makan atau terlalu banyak
makan.
Dan
Hans Selye membagi stress kedalam 3 tingkatan :
a.
Eustress adalah respon stress ringan yang menimbulkan rasa bahagia, senang,
menantang, dan menggairahkan. Dalam hal ini tekanan yang terjadi bersifat
positif, misalnya lulus dari ujian, atau kondisi menghadapi suatu perkawinan.
b.
Distress merupakan respon stress yang buruk dan menyakitkan sehingga tak mampu
lagi diatasi
c.
Optimal stress atau Neustress adalah stress yang berada antara eustress dan
distres, merupakan respon stress yang menekan namun masih seimbang untuk
menghadapi masalah dan memacu untuk lebih bergairah, berprestasi, meningkatkan
produktivitas kerja dan berani bersaing.
Stres dikatakan menjadi sebuah faktor penunjang untuk
produksi suatu penyakit tertentu, atau mungkin menjadi penyebab respon perilaku
negatif, seperti merokok, minum alkohol dan penyalahgunaan narkoba yang
semuanya dapat membuat kita rentan terhadap penyakit. Hal buruk dapat
mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan tubuh kita menjadi
kurang tahan terhadap sejumlah masalah kesehatan.
Efek
fisiologis dari stress menurut Hans Selye, pada tubuh diawali dari nyeri dada, insomnia atau
susah tid, nyeri kepala ringan sampai sedang, hipertensi atau tekanan darah
tinggi dan menyebabkan nyeri tukak.
Faktor-faktor
social dan individual yang menjadi penyebab stress
a.
Faktor sosial
Selain
peristiwa penting, ternyata tugas rutin sehari-hari juga berpengaruh terhadap
kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turut
mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stres. Dukungan sosial mencakup
dukungan emosional, seperti rasa dikasihi dan disayangi. Lalu, dukungan nyata,
seperti bantuan atau jasa. Selanjutnya, dukungan informasi misalnya nasehat dan
keterangan mengenai masalah tertentu.
b.
Faktor Individual
Biasanya
seseorang menjumpai stresor atau penyebab stress didalam lingkungannya. Nah,
ada dua karakteristik pada stresor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya
terhadap stresor itu. Yang pertama adaah berapa lamanya (duration) seseorang
harus menghadapi stressor. Dan yang kedua adalah seberapa terduganya stresor
itu (predictability).
B.Tipe-tipe
Stress Psikologis
Manusia berespon terhadap stres secara keseluruhan, sehingga
kita tidak dapat memisahkan secara sangat tegas bentuk-bentuk stres. Stres
biologis, misalnya adanya infeksi kuman dalam tubuh, akan juga berpengaruh
terhadap emosi kita. Tak hanya itu, suatu stress psikologis contohnya kegagalan
dalam mengikuti ujian, sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan fisik
seseorang. Meski demikian, dapat disebutkan beberapa tipe stres psikologis yang
terjadi secara bersamaan diantaranya adalah :
a.
Tekanan
Kita
dapat mengalami tekanan dari dalam maupun luar diri, atau keduanya. Ambisi
personal bersumber dari dalam, tetapi kadang dikuatkan oleh harapan-harapan dari
pihak di luar diri.
b.
Konflik
Konflik
terjadi ketika kita berada di bawah tekanan untuk berespon simultan terhadap
dua atau lebih kekuatan-kekuatan yang berlawanan. Konflik dibagi kedalam tiga
tipe :
1.
Konflik menjauh-menjauh : individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama
tidak disukai. Misalnya, seorang pelajar yang sangat malas belajar, tetapi juga
enggan mendapat nilai ujian yang sangat jelek, apalagi sampai tidak naik kelas.
2.
Konflik mendekat-mendekat : individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama
diinginkannya. Misalnya, ada suatu acara seminar yang sangat menarik untuk
diikuti, tetapi pada saat bersamaan kita sedang mengikuti pelajaran dikelas
yang sangat kita sukai.
3.
Konflik mendekat-menjauh: terjadi ketika individu terjerat dalam situasi di
mana ia tertarik sekaligus ingin menghindar dari situasi tertentu. Ini adalah
bentuk konflik yang paling sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,
sekaligus lebih sulit diselesaikan. Misalnya ketika pasangan yang baru menikah
berpikir tentang apakah akan segera memiliki anak atau tidak? Memiliki anak
sangat diinginkan karena pasangan dapat dikatakan sempurna, dan dapat belajar
menjadi orang dewasa yang sungguh-sungguh bertanggung jawab atas bayi yang
sepenuhnya tak berdaya. Di sisi lain, ada tuntutan financial (uang) dan waktu,
kemungkinan kehadiran bayi akan mengganggu relasi suami-istri karena mereka
sibuk dengan bekerja.
c.
Frustrasi.
Frustrasi
terjadi ketika motif atau tujuan kita mengalami hambatan dalam pencapaiannya.
Contohnya bila kita telah berjuang keras dalam belajar dan gagal mendapat nilai
baik, kita akan mengalami frustrasi. Atau bila kita dalam keadaan terdesak dan
terburu-buru, kemudian terlambat datang kesuatu acara yang penting (misalnya
karena jalanan macet) kita juga dapat merasa frustrasi. Bias juga, bila kita
sangat memerlukan sesuatu (misalnya memerlukan uang untuk bayar kuliah), dan
sesuatu itu tidak dapat diperoleh tentu kita juga akan mengalami frustrasi.
d.
Kecemasan
Gelisah,
khawatir, takut, phobia dan perasaan semacamnya itu merupakan suatu tanda atau
sinyal seseorang mengalami suatu kecemasan. Biasanya kecemasan di timbulkan
karena adanya rasa kurang nyaman, rasa tidak aman atau merasa terancam pada
dirinya. Contohnya cemas ketika akan melakukan presentasi tugas kelompok
dikelas.
D.
Pendekatan problem solving terhadap stress
Strategi
coping yang spontan menghadapi stress :
1.
Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada
masalah
Menurut
Lazarus penanganan stres atau coping
terdiri dari dua bentuk, yaitu :
a.
Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah
Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang
digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha
menyelesaikannya.
b.
Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus
untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap
situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian
defensif.
2.
Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar:
a.
strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami
penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara
menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara
langsung
b.
strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk
menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam
tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stress
3.
Berpikir positif dan self-efficacy
Menurut
Bandura self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat
mengendalikan lingkungannya sendiri. Menurut model realitas kenyataan dan
khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri
yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang
sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan
mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat
mengakibatkan konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang, melihat segala
sesuatu dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara
keseluruhan, dalam kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan
atau khayalan yang sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif
.
4.
Sistem dukungan
Menurut
East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar, keterikatan
yang dekat dan positif dengan orang lain terutama dengan keluarga dan teman
secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.
Referensi:
Semium, yustinus.2006.kesehatan mental 1.kanisius:Jakarta
hristensen.j.paula.2009.proses keperawatan.buku
kedokteran EGC : Jakarta
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri/
Rochman,
K.L. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto. Fajar Media Press