NAMA : MUHAMMAD FAUZI
KELAS : 2PA16
NPM : 15513924
Hubungan Interpersonal
·
Model
model hubungan interpersonal
Ada 4 model hubungan interpersonal yaitu meliputi :
1. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi
dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi
kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran
(akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran
dikurangi biaya).
2. Model peranan (role model)
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara.
Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat.
Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan
(role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role
skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada
kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan
peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu
ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
3. Model permainan (games people play model)
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model
ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam
bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3
bagian yaitu :
• Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan
asumsi dan perilaku yang diterima dari orang
tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
• Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah
informasi secara rasional)
• Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan
dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas,
kreativitas dan kesenangan). Pada interaksi individu menggunakan salah satu
kepribadian tersebut sedang yang lain membalasnya dengan menampilkan salah satu
dari kepribadian tersebut. Sebagai contoh seorang suami yang sakit dan ingin
minta perhatian pada istri (kepribadian anak), kemudian istri menyadari rasa
sakit suami dan merawatnya (kepribadian orang tua).
4. Model Interaksional (interacsional model)
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu
sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara
singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.
· Memulai hubungan
1.Stereotyping : kesan
yang di buat untuk membentuk konsep diri pada seseorang.
2.Implicit
personality teori : maksudnya adalah membuat kategori sama dengan membuat
konsep , konsepsi ini merupakan teori yang di pergunakan orang ketika membentuk
kesan terhadap orang lain.
3.Atribusi
: adalah proses menyimpulkan motif , maksud , dan karakteristik orang lain
dengan melihat perilakunya yang tampak.
· Hubungan peran
Model Peran
Terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk
mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan
model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:
Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar
berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di
sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik
dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata.
Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat
menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.
Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan
perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain.
Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama
dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan).
Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks
pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran
memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan
kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama,
pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama.
Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada
bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan
yang sangat penting dalam pembelajaran.
Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke
taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan
tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi
pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Dengan demikian, para peserta
didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah
yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara
optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman
orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat
dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model
mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi
pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong
peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara
seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.
·
Konflik
Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang
(masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di
sekitarnya. Konflik dapat berupad perselisihan (disagreement), adanya
keteganyan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain
di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar
kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu
sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan
masing-masing.
Substantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan
kelompok,pengalokasian sumber dalam suatu organisasi, distrubusi kebijaksanaan
serta prosedur serta pembagaian jabatan pekerjaan. Emotional conflicts terjadi
akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan
penolakan, serta adanya pertantangan antar pribadi (personality clashes).
Dalam sebuah organisasi, pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja
saling berkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul
di dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan dengan
komunikasi yang tidak efektif yang menjadi kambing hitam.
·
Adequancy peran & autentisitas dalam hubungan peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi
sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran
didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa
yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat
memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut
peran-peran tersebut.
· Intimacy dan hubungan pribadi
Intimasi dapat dilakukan terhadap teman atau kekasih. Intimasi (elemen
emosional : keakraban, keinginan untuk mendekat, memahami kehangatan,
menghargai, kepercayaan). Intimasi mengandung pengertian sebagai elemen afeksi
yang mendorong individu untuk selalu melakukan kedekatan emosional dengan orang
yang dicintainya. Dorongan ini menyebabkan individu bergaul lebih akrab,
hangat, menghargai, menghormati, dan mempercayai pasangan yang dicintai,
dibandingkan dengan orang yang tidak dicintai. Mengapa seseorang merasa intim
dengan orang yang dicintai? Hal ini karena masing-masing individu merasa saling
membutuhkan dan melengkapi antara satu dan yang lain dalam segala hal.
Masing-masing merasa tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dan kehadiran
pasangan hidup sisinya.
· Intimasi dan pertumbuhan
Apapun alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang
terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta .
Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain.
Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka
topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan
bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh
kepada pasangan kita.
Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima,
dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan
hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat
dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita
adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat
disebabkan karena (1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita
secara utuh; (2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan
memasuki pernikahan; (3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang
dapat dipercaya untuk memegang rahasia; (4) kita dibentuk menjadi orang yang
berkepribadian tertutup; (5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus
. Dalam hal inilah keutamaan cinta dibutuhkan.
Cinta dan Perkawinan
·
Memilih
Pasangan
Menikah mengandung tanggung jawab yang besar. Oleh karena
itu, memilih pasangan hidup juga merupakan hal yang harus benar-benar
diperhatikan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan dan petunjuk tentang cara
memilih pasangan hidup yang tepat dan islami. Insya Allah tips-tips berikut ini
akan dapat bermanfaat.
A. Beberapa kriteria memilih calon istri
1. Beragama islam (muslimah). Ini adalah syarat yang utama dan pertama.
2. Memiliki akhlak yang baik. Wanita yang berakhlak baik insya Allah akan
mampu menjadi ibu dan istri yang baik.
3. Memiliki dasar pendidikan Islam yang baik. Wanita yang memiliki
dasar pendidikan Islam yang baik akan selalu berusaha untuk menjadi wanita
sholihah yang akan selalu dijaga oleh Allah SWT. Wanita sholihah adalah
sebaik-baik perhiasan dunia.
4. Memiliki sifat penyayang. Wanita yang penuh rasa cinta akan memiliki
banyak sifat kebaikan.
5. Sehat secara fisik. Wanita yang sehat akan mampu memikul beban rumah
tangga dan menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu yang baik.
6. Dianjurkan memiliki kemampuan melahirkan anak. Anak adalah generasi
penerus yang penting bagi masa depan umat. Oleh karena itulah, Rasulullah SAW
menganjurkan agar memilih wanita yang mampu melahirkan banyak anak.
7. Sebaiknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda
yang belum pernah menikah. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara keluarga yang
baru terbentuk dari permasalahan lain.
B. Beberapa kriteria memilih calon suami
1. Beragama Islam (muslim). Suami adalah pembimbing istri dan keluarga
untuk dapat selamat di dunia dan akhirat, sehingga syarat ini mutlak
diharuskan.
2. Memiliki akhlak yang baik. Laki-laki yang berakhlak baik akan mampu
membimbing keluarganya ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
3. Sholih dan taat beribadah. Seorang suami adalah teladan dalam
keluarga, sehingga tindak tanduknya akan ‘menular’ pada istri dan anak-anaknya.
4. Memiliki ilmu agama Islam yang baik. Seorang suami yang memiliki ilmu
Islam yang baik akan menyadari tanggung jawabnya pada keluarga, mengetahui cara
memperlakukan istri, mendidik anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin
kebutuhan-kebutuhan rumah tangga secara halal dan baik.
·
Hubungan
dalam Perkawinan
Mempercayai mitos salah bisa merusak hubungan. Kenali hal-hal yang bisa
memicu masalah dan pahami untuk diambil manfaatnya.Menurut dr Susan Heitler,
pengarang buku pernikahan, terapis keluarga, psikolog, dan pendiri lembaga
konseling Power of Two Marriage mengatakan, setidaknya ada 6 mitos yang sering
dipercaya orang mengenai pernikahan dan bisa menyebabkan masalah di kemudian
hari.Untuk memastikan hubungan Anda berjalan baik dan bahagia, kenali dan
pahamilah mitos-mitos yang bisa merusak hubungan di bawah ini:
Pernikahan adalah tentang kompromi
Kompromi, menurut Heitler bisa menjadi kondisi yang menyebabkan kedua
pihak dalam posisi kalah. Contoh, bila Anda ingin tinggal di Jakarta, pasangan
ingin tinggal di Bandung, kedua pihak akan sangat tidak bahagia bila harus
hidup di Yogyakarta.
Heitler menyarankan untuk pasangan berusaha mencari jalan tengah yang
memberikan kemenangan bagi kedua pihak. Latihlah diri dan pasangan untuk selalu
mencari hal yang membuat kedua pihak bahagia.
Bila kamu cinta saya, kamu akan bilang saya benar
Di dalam pasangan, umum terjadi salah satu pihak merasa paling benar dan
pasangannya salah. Heitler menyarankan untuk setiap pasangan saling
menghormati.
Selalu dasarkan pikiran bahwa si dia adalah orang yang cerdas, karena itu
Anda memilih dia sebagai pasangan. Simak pendapat si dia, cermati omongannya,
tuangkan isi pikiran Anda juga di dalam perbincangan. Satukan kedua perspektif,
dan Anda berdua bisa mendapatkan kebijaksanaan.
Jangan tidur masih menyimpan marah
Bila masalahnya memang bisa diatasi sebelum tidur, selesaikanlah. Bila
masalahnya terlalu pelik dan sulit diatasi, cobalah tidur dulu. Besok pagi
masalahnya masih akan ada, namun Anda berdua akan lebih mudah bicara dengan
tenang untuk mencari solusi terbaik.
Hubungan yang berlangsung bertahun-tahun akan menjadi membosankan
Hubungan yang sudah berlangsung bertahun-tahun masih bisa terjalin
menyenangkan bila keduanya terus berusaha menginfuskan hal-hal menarik dan seru
di dalamnya, baik berdua maupun per orangan.Bila Anda berdua terus mencari
hal-hal menyenangkan dan menarik untuk diembuskan ke dalam hubungan, Anda
berdua pun akan terus melihat satu sama lain menyenangkan.
Cinta hilang karena terlalu sering bertemu
Dalam mencintai seseorang sepanjang masa, masing-masing akan selalu mencari
cara baru untuk menikmati waktu bersama, baik secara seksual maupun untuk
saling ada bagi satu sama lain.Memang, alaminya, keterbiasaan dan usia bisa
mengurangi minat untuk berhubungan seksual. Namun, pernikahan yang baik akan
mengajarkan bagaimana membuat percik cinta itu tetap menyala agar gairah
seksual terus hidup. Itulah mengapa banyak orang mengatakan, untuk menjaga
hubungan terus berjalan dan langgeng, butuh usaha dari kedua pihak.
Bila memang sudah jodoh, hubungan akan berjalan alami dan tanpa masalah
Berhubungan pun butuh keterampilan. Hubungan yang harmonis dan langgeng
telah belajar untuk berkomunikasi secara kooperatif, membuat keputusan bersama
secara kolaboratif, menyelesaikan kemarahan dengan cara yang mendidik keduanya
belajar dari kesalahan, saling menanamkan kepositivitasan, dan berinteraksi
dengan niat baik yang konsisten, dan erupsi amarah yang jarang terjadi.
· Perceraian dan Pernikahan Kembali
Pernikahan bukanlah akhir kisah indah, namun dalam perjalanannya,
pernikahan justru banyak menemui masalah. Banyak dari orang-orang yang menikah
pada akhirnya harus bercerai. Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan.
Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa
memintapemerintah untuk dipisahkan
Faktor penyebab perceraian antara lain adalah sebagai berikut :
– Ketidakharmonisan dalam rumah
tangga
Alasan tersebut di atas adalah alasan yang paling kerap dikemukakan oleh
pasangan suami – istri yang akan bercerai. Ketidakharmonisan bisa disebabkan
oleh berbagai hal antara lain, krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang
ketiga. Dengan kata lain, istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga
memerlukan perincian yang lebih mendetail.
- Krisis moral dan akhlak
Selain ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perceraian juga sering memperoleh
landasan berupa krisis moral dan akhlak, yang dapat dilalaikannya tanggung
jawab baik oleh suami ataupun istri, poligami yang tidak sehat, penganiayaan,
pelecehan dan keburukan perilaku lainnya yang dilakukan baik oleh suami ataupun
istri, misal mabuk, berzinah, terlibat tindak kriminal, bahkan utang piutang.
–
Perzinahan
Di samping itu, masalah lain yang dapat mengakibatkan terjadinya
perceraian adalah perzinahan, yaitu hubungan seksual di luar nikah yang
dilakukan baik oleh suami maupun istri.
–
Pernikahan tanpa cinta
Alasan lainnya yang kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk
mengakhiri sebuah perkawinan adalah bahwa perkawinan mereka telah berlangsung
tanpa dilandasi adanya cinta. Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah
pernikahan tanpa cinta, pasangan harus merefleksi diri untuk memahami masalah
sebenarnya, juga harus berupaya untuk mencoba menciptakan kerjasama dalam
menghasilkan keputusan yang terbaik.
– Adanya masalah-masalah
dalam perkawinan
Menikah kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang
membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua
kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin
mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya
dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama
menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Lalu hal apa yang akan
mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak faktor.
Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah
lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor
pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan
yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki
dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya.
Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena
kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah
menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru
cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya
tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang
terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.
Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar
belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk
diusahakan bersama.
· Alternatif selain Pernikahan
Paradigma terhadap lajang cenderung memojokkan. pertanyaannya kapan
menikah?? Ganteng-ganteng kok ga menikah? Apakah Melajang Sebuah Pilihan??
Ada banyak alasan untuk tetap melajang. Perkembangan jaman, perubahan
gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan
hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan
berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup melajang.
Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan
dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia
seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi
merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang
memilih untuk tetap hidup melajang.
Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring dengan
perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang masih
hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan supel.
Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki posisi
pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik.
Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak
ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati
kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi,
tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan.
Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu.
Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang
untuk mengisi posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi
terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang.
Banyak pria menempatkan pernikahan pada prioritas kesekian, sedangkan
karir lebih mendapat prioritas utama. Dengan hidup melayang, mereka bisa lebih
konsentrasi dan fokus pada pekerjaan, sehingga promosi dan kenaikan jabatan
lebih mudah diperoleh. Biasanya, pelajang lebih bersedia untuk bekerja lembur
dan tugas ke luar kota dalam jangka waktu yang lama, dibandingkan karyawan yang
telah menikah.
Kemapanan dan kondisi ekonomi pun menjadi alasan tetap melajang. Pria
sering kali merasa kurang percaya diri jika belum memiliki kendaraan atau rumah
pribadi. Sementara, perempuan lajang merasa senang jika sebelum menikah bisa
hidup mandiri dan memiliki karir bagus. Mereka bangga memiliki sesuatu yang
dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Selain itu, ada kepuasaan tersendiri.
Banyak yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak
memilih atau ingin mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan
jodoh. Pernikahan adalah untuk seumur hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan
masa hidup kita dengan seorang yang tidak kita cintai. Lebih baik terlambat
menikah daripada menikah akhirnya berakhir dengan perceraian.
Lajang pun lebih mempunyai waktu untuk dirinya sendiri, berpenampilan
lebih baik, dan dapat melakukan kegiatan hobi tanpa ada keberatan dari
pasangan. Mereka bebas untuk melakukan acara berwisata ke tempat yang disukai
dengan sesama pelajang.
Pelajang biasanya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya jika
dibandingkan dengan teman-teman yang berusia sama dengannya, tetapi telah
menikah.
Ketika diundang ke pernikahan kerabat, pelajang biasanya menghindarinya.
Kalaupun datang, mereka berusaha untuk berkumpul dengan para sepupu yang masih
melajang dan sesama pelajang. Hal ini untuk menghindari pertanyaan singkat dan
sederhana dari kerabat yang seusia dengan orangtua mereka. Kapan menikah? Kapan
menyusul? Sudah ada calon? Pertanyaan tersebut, sekalipun sederhana, tetapi
sulit untuk dijawab oleh pelajang.
Seringkali, pelajang juga menjadi sasaran keluarga untuk dicarikan jodoh,
terutama bila saudara sepupu yang seumuran telah menikah atau adik sudah
mempunyai pacar. Sementara orangtua menginginkan agar adik tidak melangkahi
kakak, agar kakak tidak berat jodoh.
Tidak dapat dipungkuri, sebenarnya lajang juga mempunyai keinginan untuk
menikah, memiliki pasangan untuk berbagi dalam suka dan duka. Apalagi melihat
teman yang seumuran yang telah memiliki sepasang anak yang lucu dan
menggemaskan. Bisa jadi, mereka belum menemukan pasangan atau jodoh yang cocok
di hati. Itulah alasan mereka untuk tetap menjalani hidup sebagai lajang.
Melajang adalah sebuah sebuah pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang
menikmati hidupnya. Pelajang akan mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati
jika telah menemukan seorang yang telah cocok di hati.
Kehidupan melajang bukanlah sebuah hal yang perlu ditakuti. Bukan pula
sebuah pemberontakan terhadap sebuah ikatan pernikahan. Hanya, mereka belum
ketemu jodoh yang cocok untuk berbagi dalam suka dan duka serta menghabiskan
waktu bersama di hari tua.
Arus
modernisasi dan gender membuat para perempuan Indonesia dapat menempati posisi
yang setara bahkan melebihi pria. Bahkan sekarang banyak perempuan yang
mempunyai penghasilan lebih besar dari pria. Ditambah dengan konsep pilihan
melajang, terutama kota-kota besar, mendorong perempuan Indonesia untuk hidup
sendiri.